PERGERAKAN RUPIAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERDAGANGAN INTERNASIONAL


PERGERAKAN RUPIAH BULAN DESEMBER DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERDAGANGAN

Awal Desember menjadi kabar baik bagi nilai tukar rupiah, selain arus modal yang masuk (capital inflow), "gencatan senjata" atas konflik dagang Amerika Serikat dan Republik Rakyat China meredakan kekhawatiran investor.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin (3/12/2018) dibuka menguat. Indeks Bloomberg mencatat rupiah dibuka bertenaga 31 poin ke level Rp14.280 per USD, dimana pada Jumat pekan lalu di level Rp14.301 per USD.
 Menanggapi ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengatakan pertemuan G20 yang mempertemukan Presiden AS Donald Trump dan juga Presiden RRC Xi Jinping membuat rupiah menguat. Hal ini seiring kepercayaan investor yang positif terhadap mata uang NKRI.
"Kita ada di dalam suasana global, dimana keterbukaan ekonomi mengalami dinamika termasuk nilai tukar rupiah. Sebelumnya, kebijakan The Fed memberikan sentimen yang kuat dan luar biasa kepada dolar AS. Itu berdampak terhadap kurs di negara lainnya," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Senin (3/12/2018).
Dan sekarang, seiring kepercayaan investor dan meredanya kekhawatiran konflik dagang, Sri Mulyani mengatakan tetap akan menjaga APBN di tahun 2019. Pasalnya, di tahun ini, gejolak ekonomi global telah mempengaruhi ekonomi Indonesia. Meski demikian, gejolak ini bisa dilalui dengan cukup baik.
Rupiah mengambil untung dari pelemahan dolar AS, karena permintaan investor untuk aset berisiko meningkat usai AS dan China menyetujui gencatan konflik dagang mereka yang telah mengguncang pasar global.
Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRC Xi Jinping dalam pembicaraan G20 di Argentina, sepakat tidak akan menaikkan tarif sebesar 25% pada impor barang China senilai USD200 miliar pada 1 Januari 2019. Selama 90 hari, kedua negara akan melakukan pembicaraan baru demi mencapai kesepakatan damai.
“Gencatan konflik dagang berdampak positif untuk pasar. Tapi pembelian dolar AS dan mata uang safe haven lainnya memudar. Yang akan menguat adalah mata uang dengan risiko tinggi seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru,” ujar Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang senior di NAB, seperti dilansir Reuters.
Indeks USD melawan enam mata uang utama dunia, diperdagangkan turun 0,36% menjadi 96,92. Dolar AS pun kehilangan 0,75% melawan dolar Australia dan jatuh 0,5% terhadap dolar Selandia Baru. Dolar AS juga kehilangan 0,55% melawan yuan China menjadi 6,9109.
Greenback juga melemah 1,2% melawan rand Afrika Selatan dan turun 1,4% terhadap peso Meksiko, karena pedagang menjauhi mata uang USD yang paling likuid di dunia, untuk menaruhnya di mata uang berisiko tinggi.
Mata uang safe haven lainnya, yen Jepang diperdagangkan lebih rendah ke level 113,45 per USD. Adapun euro naik 0,3% menjadi USD1,1350. Euro juga menguat 0,3% terhadap yen menjadi 128,84. 
Menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai akan membawa dampak positif bagi produk makanan olahan Indonesia. Penguatan tersebut dinilai akan membuat harga baku impor menurun sehinggga berdampak pada daya saing produk. Selama ini industri makanan olahan dalam negeri masih bergantung pada bahan baku impor. Jika rupiah menguat, maka biaya produksi industri akan mengalami penurunan.
Jika biaya produksi turun maka harga jual produk makanan bisa lebih murah. Dengan demikian, maka produk makanan lokal bisa bersaing dengan produk sejenis dari negara lain.
"Ini akan memberikan peningkatan daya saing. Dengan menguatnya rupiah, sudah tentu kita akan lebih murah lagi harga dari makanan olahan ekspor sendiri,"
Penguatan rupiah bisa menimbulkan berkah dan masalah bagi perekonomian Indonesia. Dalam kaitan dengan berkah, beberapa hal yang kemungkinan bisa dinikmati perekonomian Indonesia adalah; Pertama, Penguatan rupiah akan membuat kewajiban bayar utang (dari luar negeri) dan anggaran subsidi mengalami penurunan.Tidak mengherankan bila muncul prediksi bahwa setiap rupiah menguat 100 rupiah, maka belanja negara akan bisa dihemat sebesar 400 miliar rupiah.
Kedua, penguatan rupiah mengurangi tekanan inflasi yang berasal dari imported inflation.
Ketiga, apresiasi rupiah juga memberikan keuntungan bagi importir. Jika barang-barang yang diimpor itu merupakan barang modal (mesin dan peralatan) dan bahan baku (gandum), maka kapasitas produksi perekonomian bisa ditingkatkan karena biaya produksi yang harus dikeluarkan secara relatif akan menjadi lebih murah.
Namun demikian, apresiasi rupiah juga berpotensi membawa masalah bagi perekonomian, utamanya pada sisi neraca perdagangan. Artinya, di satu sisi, industri dengan orientasi ekspor, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), sepatu, dan elektronik, adalah mereka yang akan mendapatkan masalah dari terjadinya penguatan rupiah. Secara relatif, produk-produk mereka di pasar ekspor akan menjadi lebih mahal sehingga berpotensi menekan pendapatan (dalam rupiah) mereka.
Selain itu, produk-produk ekspor Indonesia akan mendapatkan persaingan (dari sisi harga) yang lebih ketat dari produk yang berasal dari negara dengan apresiasi mata uang lebih rendah dari rupiah, seperti Malaysia, Thailand, dan China. Untuk itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk. Tanpa adanya peningkatan kualitas, dengan harga yang relatif menjadi lebih mahal, boleh jadi produk-produk ekspor Indonesia tidak akan mampu mempertahankan posisinya di beberapa negara tujuan ekspor.
Di sisi yang lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, penguatan rupiah akan meningkatkan intensitas penetrasi produk-produk impor. Kondisi seperti ini akan membuat industri penghasil barang-barang konsumsi dengan orientasi pasar domestik akan mendapatkan persaingan yang lebih ketat dari barang-barang konsumsi impor.
Pada gilirannya, penurunan ekspor dan peningkatan impor ini akan menekan neraca perdagangan. Beranjak dari analisis bahwa apresiasi rupiah membawa berkah sekaligus masalah, BI tampaknya perlu lebih proaktif memonitor dan mengawal penguatan rupiah. Dalam kaitan ini, ada baiknya BI memiliki batas toleransi sampai pada level berapa rupiah boleh mengalami apresiasi.
Pada kondisi ketika batas toleransi itu sudah terlewati, BI perlu melakukan intervensi, meskipun dengan konsekuensi mengeluarkan biaya moneter yang tidak murah. Secara psikologis, intervensi yang dilakukan BI ini akan menambah keyakinan pelaku usaha bahwa mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian, sesuatu yang sudah sangat jarang dirasakan pelaku usaha akhir-akhir ini.


Komentar

Postingan Populer